di page ini

Jumat, 21 Maret 2008

Pragmen Kematian

Pragmen Kematian
Aku sudah mati!
Sesaat setelah kulewati lorong panjang kegelapan dengan senoktah cahaya terang di kejauhan. Ketika mencapainya, ternyata aku berada di kamarku sendiri. Terlongong menatap sekujur tubuh kaku tertutup kain. Tubuhku!
Kematian ini bagaikan udara menerpa wajahku. Tak terasa. Setelah perpindahan yang sangat mudah, singkat, ringan dan begitu halus, aku kini bisa berjalan laksana semilir angin. Aku dapat menembus segala macam benda tanpa merusaknya dan tanpa terlihat mata.
Kematian ternyata juga tidak begitu menyakitkan seperti yang diceritakan Pak Haji Husein di pengajian komplek. Aku hanya merasa sedikit sakit dan agak gatal seperti digigit semut merah. Lalu kematian pun kulalui dengan senyuman.
Kematian malah membuatku merasa terbebas dari impian-impian kosong. Ibaratnya, seperti kita bermimpi di kala tidur kemudian kita terbangun. Maka, kehidupan dunia hanyalah impian dan kematian merupakan proses kesadaran total manusia.
Sehingga tampak bodohlah orang-orang yang jungkir balik berusaha membangun mimpinya, namun ketika terbangun tak secuilpun yang dibawanya. Kematian datang untuk membebaskan orang dari kebodohan itu.
Kuperhatikan suami, kedua anakku dan orang-orang yang mengelilingi jasadku. Dari mulut mereka yang mengerucut dan membuka membunyikan do'a: irhamnaa yaa arhamarraahimiin berhamburan bunga-bunga indah yang melekatiku dan mengharumi rohku yang berkilau cemerlang.
Aku menangis!
"Anakku! Jangan menangis, Nak!"
Teriakanku ini membuat burung di kurungan belakang mencicit gaduh. Bumi terasa bergoncang. Tapi anakku tak bergeming. Akhirnya aku diam, bagaimanapun bunyi yang mempunyai frekuensi kurang dari 20 Hz tidak akan dapat didengar manusia yang masih terperangkap jasad wadagnya.
Aku kembali berputar-putar. Di dapur, Bu Lik Aisyah dengan ibu komplek terisak-isak. Semuanya tampak muram dan kontras dengan keanggunan rohku yang telah meraih kebebasannya.
Ah! Kematian memang benar-benar indah namun juga penuh misteri. Aku yang berusia tiga puluh enam tahun dan segar bugar justru lebih dahulu mengalaminya daripada Bu Lik Aisyah yang sudah berumur lima puluh sembilan tahun dan sakit-sakitan.
Aku berpindah lagi ke ruang tengah. Di tempat ini, jasadku yang telah dipindahkan sedang dipersiapkan untuk dimandikan.
Bu Hajjah Aminah memimpin anak buahnya memandikanku. Dingin menusuk ketika guyuran demi guyuran air dialirkan di atas tubuhku. Geli yang amat sangat kurasakan ketika Bu Hajjah Aminah perlahan menggosok bagian tubuhku yang selama ini kujaga dan kurahasiakan.
Tetapi, rasa sakit tiba-tiba merejamku. Aku mengumpat pada salah seorang anak buah Bu Hajjah yang terlalu keras menggosok kulitku. Sakit dan geli silih berganti.
Tapi aku tak menggerundel lagi saat kuperhatikan kehati-hatian mereka memperlakukan mayatku. Entahlah, kematian membuat kepekaanku bertambah empat puluhan kali.
Aku membetot angin dalam loncatan ringan dari sudut yang satu ke sudut yang lain. Sebentar lagi rumah yang telah kutempati empat belas tahun sejak menikah dengan Mas Yoso akan kutinggalkan.
Di rumah ini, belasan tahun yang lalu, seorang Arjuna datang dan ingin membawaku terbang. Nirwana indah yang pernah kami cita-citakan jauh sebelum kehadiran Mas Yoso yang berhasil mendapatkan simpati kedua orang tuaku begitu mempesona.
“Apalagi yang bisa kuperbuat selain berdiam diri?”
“Dan menyakitiku?” sergahnya.
“Semua sudah lewat,” desisku pahit.
“Bodoh!”
“Lebih bodoh lagi jika aku membiarkan diriku terperangkap masa lalu,”
“Masa lalu yang mana?”
“Yang mana lagi?!”
“Dalam keputus-asaan, kau tampak semakin dungu. Masa lalu yang mana yang akan kau tinggalkan?”
“Semuanya!” tandasku.
Arjunaku tertawa dan aku mendelikkan mata, tersinggung.
“Tak secuilpun dari masa lalumu yang bisa kau tinggalkan begitu saja,”
“Kenapa?” tanyaku memancing.
“Karena sampai kapanpun kau akan memilikinya. Kalau suatu ketika kau merasa membuangnya, kau hanya tertidur atau lupa. Tapi begitu bangun dan begitu ingat, kau masih menggenggam masa lalumu”.
Kuhembuskan napas melonggarkan dadaku yang sesak tanpa berucap sepatah katapun. Perselingkuhan (selama tidak kecolongan) mungkin bisa memberikan nuansa kehidupan yang lain. Kita diibaratkan bisa mengenal dunia yang berbeda tanpa harus meninggalkan bumi yang kita pijak. Tapi bagaimanapun aku sudah memilih dan aku merasa tak mungkin memiliki semuanya sekaligus.
Pernikahan ini terlalu agung jika harus kuwarnai dengan kebohongan anak kecil yang ketahuan menyontek. Mas Yoso, meskipun memiliki kekurangan selayaknya amnusia, ia terlalu baik untuk disakiti.
"Cobalah kau lari. Terus berlari sampai keliling bumi, kau akan kembali ke sini, ke masa lalumu. Pasti!" Arjuna tersenyum mengejek.
Aku tak berniat membantah. Aku juga tak menyagkal jikalau kehidupan diibaratkan seperti angka nol. Berawal dari satu titik dan akan berakhir di titik itu lagi. Hidup dan mati manusia berasal dari Dzat yang menciptanya dan akan kembali kepada Dzat yang memilikinya.
Aku bahkan tak akan membantah bila kehidupan sebagai proses yang berlangsung antara hidup dan mati diumpamakan bagaikan gelombang.
Dimana di situ ada fenomena kehidupan yang turun naik dan kait mengkait sehingga aku takkan bisa melarikan diri. Karena itu, aku takkan lari!
Waktu terus berlalu. Aku menjalani kehidupanku yang biasa-biasa saja. Hamil lalu melahirkan sesuai kodratku sebagai perempuan. Menjalani kehidupanku sebagai seorang istri dan seorang ibu yang sama sekali tidak menjadi penghalang karirku sebagai pengacara.
Lima tahun kemudian aku bertemu dengan Arjunaku lagi. Seperti keyakinanku, dia telah berkeluarga. Terlalu banyak Sembadra dan Srikandi yang bersedia menjadi mainannya sekalipun. Tapi tak urung aku kaget ketika dia bilang tidak berbahagia.
"Atas perpisahan yang menyakitkan dulu, apakah aku lebih kehilangan ketimbang dirimu sendiri?"
"Mungkin ya, mungkin tidak, mungkin sama saja," jawabku setenang-tenangnya.
"Lalu kenapa kau bisa tertawa bahagia sedangkan aku tidak?"
"Karena bagimu, mengingatku adalah bunuh diri tak mati-mati".
"Bagimu tidak?"
Aku tak menjawab. Arjunaku menarik napas dalam-dalam.
"Kamu benar, Kunti. Karena masa lalumu telah kau buang sehingga tak ada alasan bagimu untuk mengingatnya"
Kulirik Arjuna yang tersenyum masam.
"Tak ada yang dapat membuang masa lalunya, Arjuna."
"Lalu kenapa?"
"Karena kau anak ayam yang terbiasa mendapatkan induknya di manapun. Dan aku, barangkali satu-satunya induk yang tak bisa kau miliki"
Arjuna menatap tajam seolah-olah mau menelanku.
"Berdamailah dengan masa lalu, berdamailah dengan dirimu. Ada kekuatan besar yang menjadi penentu segala sesuatu, kekuatan Yang Maha Memberi. Tapi bukan berarti kita bisa memiliki semua yang kita inginkan. Berdamailah dengan keterbatasanmu, agar kapanpun kau mengingatku tidak menjadi ritual bunuh diri tak mati-mati. Terlalu menyakitkan untuk anak ayam sepertimu."
Kutatap Arjuna untuk terakhir kali sebelum kuayunkan langkah. Aku hanya berdo'a semoga dia juga bahagia.
Berdamai dengan masa lalu! Ah!
Hari ini seharusnya aku mendampingi klienku yang menjadi saksi kunci korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh seorang yang sangat berkuasa. Seseorang yang tak pernah tersentuh hukum.
Dan seseorang itu pula yang pernah dekat sekali dengan hidup dan perjuanganku. Tapi kemapanan telah membuatnya terlena hingga aku sebagai satu-satunya induk yang tak bisa dimilikinya harus menyadarkannya.
Namun, seorang penembak misterius keburu menancapkan pelurunya di keningku pukul delapan pagi tadi. Tepat dua jam sebelum persidangan dimulai! Dan kejahan ini pasti akan terlupakan, sementara saksi kunci itu mungkin dituntut balik karena telah mencemarkan nama baik! Oh negeriku sayang! Kebenaran tidak lebih berharga di banding sampah di trotoar jalanan.
Langit mendung. Seluruh alam bergemuruh, bertasbih. Wewangian yang tak habis-habis terus menyertai ke manapun aku berpindah. Dalam keharuan seperti ini aku merasa ingin menangis. Tapi tak ada air mata, tak ada suara. Aku lalu mengungkapkannya dengan mencelat ke sana ke mari dalam gerakan ringan.
Ratusan, mungkin ribuan pengantar jenazah mulai bergerak menuju Karet, tempatku bakal dimakamkan. Mobil yang membawa jasadku ditutup kain berwarna hijau. Sirene meraung-raung.
Petugas-petugas keamanan dengan pakaian preman dan berseragam terlihat turut menyertai barisan panjang ini. Sementara itu dua orang polisi memimpin barisan di depan sambil melambai-lambaikan bendera berwarna putih.
Aku ingin berdamai dengan masa lalu. Berdamai dengan ruang dan waktu yang menghargai kebenaran hanya sampai di tenggorokan. Ah! Jasadku pelan-pelan diturunkan ke liang lahat. Kulihat orang-orang menangis semakin keras ketika tanah dan bunga-bunga dijatuhkan sambung menyambung di atas tubuhku.
Aneh! Semakin banyak tanah menutupiku, semakin benderanglah sekelilingku. Kucium anak-anak dan suamiku dalam selarik cahaya penuh kasih. Inilah saatnya aku harus berdamai dengan masa lalu agar kehadiranku tidak menjadi sesuatu yang meresahkan bahkan menakuti mereka.
Dengarlah! Nyanyian-nyanyian merdu menyambut kedatanganku.
"Wahai jiwa yang tenang...
Wahai jiwa yang tenang.."
Sapaan ini membuatku meliuk-liuk semakin cepat. Kusongsong malaikat Izrael dalam wujudnya yang seperti matahari. Kadang sinarnya yang menyilaukan itu meredup seperti rembulan.
Pada saat itu dapat kulihat titik-titik hitam menyerupai mata yang banyak sekali. Mungkin milyaran. Apakah mengedipnya satu mata berarti satu orang pula meninggal dunia? Maha suci Tuhan!
Aku mencelat berusaha semakin dekat. Wujudnya berubah menjadi rajawali yang menutup angkasa dengan sayapnya. Langit biru berkilauan.
Aku bertanya, "Kemana aku akan dibawa?" Izrael seperti tersenyum dibalik perubahan-perubahan wujudnya yang luar biasa indah.
Aku melenting turun naik dan beredar mengelilingi Izrael yang menjelma menjadi monumen cahaya. Lalu datanglah dua cahaya yang sangat besar dan harum.
Rohku tenggelam dalam kebesaran cahayanya. Aku merasakan nikmat yang enteng tetapi terasa nyeri.
Mungkin inilah keindahan itu. Keindahan yang kupungut setelah tercecer dan berserak di mana-mana. Kinilah saat semua disatukan kembali ke kaki yang menciptanya. Izrael menghilang.
Gegap salam menyambut kedatanganku. Semua terasa mengawan. Indah.
"Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya
Maka masuklah ke dalam barisan hamba-hamba Ku,
Dan masuklah ke dalam surgaku.."

5 komentar:

Butiq Bunda (Simpel, Modis, & Nyaman) mengatakan...

Allow mbak salam kenal ya...yuuk mampir ke tempatku

mohd shaharudin sulaiman mengatakan...

semakin hari semakin dekat ye kematian yang menjelma....

layarilah laman blog saya untuk komentar puisi yang saya tuliskan..

mau jadi puitis hebat gitu

koula mengatakan...

Thank you very much for visiting my blog and you comment ;)

bintang_biru07 mengatakan...

salam kenal.cerpennya baguuuuuuuuuuuuus.

Hamiem mengatakan...

Terima kasih sudah singgah. Itu adalah cerpen dalam buku saya yang berjudul; "DARMO BECAK MENDEMO TUHAN"